Categories
Uncategorized

SATU DARAH, DUA BENDERA

MEREKA abang dan adik. Nama belakang mereka sama, Xhaka. Maklum, bapak dan ibu mereka juga sama. Tapi di Lens, Prancis, 11 Juni mendatang, keduanya memakai baju berbeda. Satu darah, dua bendera. Taulant memakai seragam dengan logo federasi sepak bola Albania di dada kirinya. Sedangkan Granit, sang adik, memakai baju Swiss. Kakak-adik ini harus saling sikat demi mendapatkan kemenangan. Pertandingan Albania melawan Swiss, setelah ditetapkan dalam undian, langsung menyedot perhatian.

Sebab, dua tim ini teramat unik. Keduanya diperkuat pemain asal Albania. Di tim Swiss, ada tujuh pemain berdarah Albania. Mereka adalah Xherdan Shaqiri, Granit Xhaka, Pajtim Kasami, Valon Behrami, Admir Mehmedi, Blerim Dzemaili, dan Almen Abdi. Sebaliknya, tim Albania diisi pemain yang lahir di Swiss. Selain Taulant Xhaka, Lorik Cana sang kapten adalah pemain yang besar di Swiss. Ceritanya memang panjang. Mereka merupakan anak-anak para imigran yang pergi dari Albania yang diamuk konflik pada awal 1990-an.

Saat itu rata-rata masih berusia di bawah lima tahun. Mereka, sesama saudara itu, pun akur-akur saja sampai akhirnya muncul ide dari Gianni de Biasi, yang ditunjuk menangani tim nasional Albania pada Februari 2010. Tawaran yang diambil pelatih asal Italia itu keruan saja membuat rekan-rekannya bingung setengah mati. Bukan apa-apa. Albania bukanlah negara bagus dalam sepak bola Eropa. ”Banyak teman yang menanyakan keyakinan saya dengan keputusan itu.

Mereka minta saya berpikir matang-matang. Tapi saya mengambil keputusan itu dengan cepat. Bagi saya, ini semacam tantangan dan petualangan,” ujar De Biasi. Dia punya keyakinan. Salah satunya adalah sukses Swiss menembus Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Swiss lolos dengan menggunakan sejumlah pemain keturunan Albania. Belajar dari situlah pria 59 tahun ini yakin tim Elang Berkepala Dua—lambang tim Albania akan meraih sukses.

Caranya? Dia harus membawa pulang pemain Albania yang terserak di berbagai negara, terutama di Swiss. Kiat De Biasi bukan yang pertama. Sukses sebelumnya diraih Slaven Bilic, yang kini menjadi pelatih West Ham United. Saat masih menjadi pelatih Kroasia, empat tahun silam, dia berhasil membawa Ivan Rakitic yang kini bermain di Barcelona kembali ke tanah leluhurnya.

Rakitic lahir dan besar di Swiss serta sempat membela tim junior negeri itu. Beruntung bagi Bilic, Rakitic tercatat belum pernah membela tim senior Swiss. Sesuai dengan aturan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), dia masih bisa bermain untuk Kroasia. Cerita sukses Bilic-lah yang diikuti De Biasi. Sebulan setelah menjabat pelatih, De Biasi memulai aksinya. Dia mendata pemain sepak bola bergaris keturunan Albania yang tersebar di sejumlah negara.

Mereka banyak bermigrasi ke Swiss dan kawasan yang kini menjadi wilayah Serbia. Nama seperti Xhaka bersaudara masuk radarnya. Juga Xherdan Shaqiri, Migjen Basha, Shkodran Mustafi, hingga Lorik Cana. Tapi usaha itu tak mudah. De Biasi mengalami kesulitan dalam meyakinkan para pemain untuk membela negeri dengan populasi tak lebih dari 2,7 juta penduduk ini. Sebab, mereka yang lahir dan besar negara lain sudah merasa betah di negara itu.

Lagi pula, mereka hanya memiliki sedikit ikatan dengan Albania. ”Saya mengerti masalah mereka dan saya mencoba menjadi seperti ayah bagi mereka. Saya mencoba memberikan nasihat bukan hanya masalah olahraga, melainkan juga soal pribadi mereka,” ujar De Biasi.

Website : kota-bunga.net

Categories
Uncategorized

Pemain Sepak Bola Negara Sangat Di Pentingkan

Maklum, federasi sepak bola negara itu baru diterima menjadi anggota Badan Sepak Bola Eropa (UEFA) dan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) pada Mei lalu. Negara yang baru merdeka pada 2008 itu pun masih mungkin merangkul pemain lain berdarah Kosovo yang tersebar di berbagai negara jika mendapat persetujuan FIFA.

Di tim nasional Swiss, misalnya, ada Xherdan Shaqiri, Valon Behrami, dan Granit Xhaka, yang juga berasal dari Kosovo. Shaqiri dan Xhaka sama-sama lahir di Gnjilane, Kosovo, dan dibawa bermigrasi ke Swiss oleh orang tuanya saat masih berusia di bawah lima tahun. Di negara baru itu, ketika banjir imigran terus diprotes dan menjadi perdebatan, mereka bisa leluasa menempa diri dengan kemampuan bermain bola berkat kehadiran sistem pelatihan yang sangat terstruktur dan bisa menjangkau semua pelosok.

Shaqiri dan Xhaka sama-sama dibesarkan klub FC Basel, yang sangat terbuka kepada pemain imigran. Negara yang juga ramah terhadap keturunan imigran adalah Prancis. Klub divisi II negara itu, Le Havre, menjadi salah satu tempat lahirnya banyak pemain imigran hebat. Riyad Mahrez di antaranya. Pemain ini lahir di Prancis, tapi akhirnya memilih membela tim nasional negeri leluhurnya, Aljazair. Musim ini, ia tampil mencorong bersama Leicester City, yang menjadi juara Liga Inggris. Di awal kariernya, Mahrez sempat mendapat tawaran dari akademi Paris Saint-Germain dan Marseille. Tapi ia memilih Le Havre.

”Itu pilihan terbaik bagi saya karena klub tersebut memiliki sistem pembinaan usia muda yang sangat bagus,” ujar gelandang 25 tahun ini, seperti dikutip Guardian. Le Havre merupakan salah satu yang terbaik dari 40 akademi sepak bola di Prancis. Akademi di sana umumnya menerima 350 pemain hasil didikan 500 sekolah olahraga dan 25 pusat pelatihan lokal di seantero negeri. Melalui proses berkesinambungan, setiap tahun akademiakademi itu akan melahirkan sekitar 70 pemain profesional.

Saat ini, Le Havre juga menyumbangkan empat alumnusnya ke tim nasional Prancis yang akan berlaga di Piala Eropa 2016. Mereka adalah Paul Pogba, Dimitri Payet, Steve Mandanda, dan Lassana Diarra. Pogba memiliki darah Guinea; Payet lahir di Kepulauan Reunion, Samudra Hindia; leluhur Mandanda berasal dari Kongo; sedangkan Diarra memiliki darah Mali. Masuknya mereka ke tim nasional mendatangkan pujian tersendiri bagi Le Havre. ”Ini menjadi pengakuan atas sistem pelatihan di Havre,” kata Johann Louvel, direktur pusat pelatihan klub itu.